Friday, December 19, 2014

Pendidikan Salah Satu Kunci Dimensi Pembangunan Manusia

Thu, 12/18/2014 - 15:58
 
















Jakarta, Kemendikbud --- Tiga dimensi pembangunan jangka menengah pada pemerintahan saat ini adalah dimensi pembangunan manusia, dimensi pembangunan sektor unggulan dan dimensi pembangunan pemerataan dan kewilayahan. Dimensi pembangunan manusia adalah kunci dari dimensi-dimensi pembangunan lainnya dan pendidikan merupakan salah satu dimensi pembangunan manusia tersebut.
“Pembangunan manusia adalah kunci. Apabila program-program yang ada tidak dibarengi dengan pembangunan manusia yang baik pasti akan ada kendala di lapangan,” kata Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), pada sambutannya di acara Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 di Hotel Bidakara, Jakarta (18/12).
Jokowi mengimbau gubernur, walikota dan bupati agar melakukan perbaikan-perbaikan terkait dimensi pembangunan manusia dalam hal mengubah pola pikir, melakukan revolusi karakter dan melakukan serangan nilai-nilai di birokrasi dan atau masyarakat yang pola pikirnya masih lambat. ”Perlu dibangun sistem agar birokrasi dan atau masyarakat berubah menjadi lebih cepat dalam pelayanannya,” ujar mantan gubernur DKI Jakarta tersebut.
Jokowi menambahkan, kepatuhan pada hukum harus mulai dilakukan secara tegas. “Kami menyampaikan kepada POLRI, Kejaksaan Agung dan instansi-instansi lainnya untuk betul-betul menegakkan hukum dengan tegas, termasuk di dalamnya yang berkaitan dengan narkoba,” tutur Presiden.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, saat diwawancarai mengatakan, Presiden Jokowi menggarisbawahi pentingnya perubahan mindset. “Kita akan fokus pada pendidiknya karena kuncinya adalah pendidik. Apabila kualitas pendidiknya meningkat maka kualitas kelasnya meningkat dan begitu juga apabila kualitas kepala sekolahnya meningkat maka kualitas sekolahnya meningkat pula,” kata mantan rektor Universitas Paramadian itu
Mendikbud juga mengatakan, birokrasi pendidikan harus berorientasi pada perubahan kondisi pendidikan bukan sekedar menjalankan SOP (Standard Operational Procedure) saja. “Melihat capaian pendidikan dari tahun ke tahun itu tidak banyak perubahan, jadi birokrasi harus diberi target sehingga provinsi, kabupaten/kota dan sekolah-sekolah mempunyai target masing-masing. Kita sedang mengejar perubahan bukan sekedar menjalankan SOP saja,” tuturnya.
Mendikbud Anies menambahkan, presiden Jokowi juga menggarisbawahi mengenai keluarga karena keluarga adalah salah satu pilar bangsa. “Kita akan membantu menyiapkan keluarga menjadi pendidik yang baik,” tuturnya. (Agi Bahari)


Sumber : http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/berita/3634

“Geliat Study Tour” di Negara Singapura (Revolusi Mental – Pendidikan Karakter – Pemanusiaan Manusia)

Prolog
Kita pantas mengakui Ki Hajar Dewantoro sebagai “Nabi” besar Indonesia yang membawa pencerahan (aufklarung) bagi dunia pendidikan Indonesia. Asli karakter pendidikan yang telah dirintis Ki Hajar Dewantoro yakni pendidikan menjadi sarana untuk memanusiakan manusia, pendidikan merupakan medan hidup manusia. Di satu pihak, pendidikan terbentuk dari realitas manusia sebagai makhluk rasional yang secara individual dan kolektif mengekspresikan dirinya dalam berbagai daya kreasi dan actus akhlak mulia. Di lain pihak, pendidikan membentuk manusia menjadi pribadi utuh yang memiliki keutamaan-keutamaan tertentu.
            Mengapa Ki Hajar Dewantoro gigih memperjuangkan pendidikan di Indonesia? Bila ditilik secara terminologis, term pendidikan itu sendiri berarti membebaskan. Orang yang hidupnya terkurung dalam tirai ketakberdayaan, tersekat di dunia yang sempit, gelap dan pengab, dihantar keluar (e-ducere) menuju dunia yang luas, cerah, terang, bebas dan lapang. Titik perjuangan Ki Hajar Dewantoro berangkat dari keprihatinannya terhadap kondisi negara Indonesia yang waktu itu terkungkung di bawah penjajah asing, dimana orang-orang pribumi hidup di dalam dunia yang sangat tersekat dan terbatas ruang geraknya. Lewat dunia pendidikan, beliau ingin membebaskan bangsanya dari penjajahan, kemiskinan dan kebodohan. Perjuangan demi perjuangan, setelah mengalami etape pembuangan, yang sempat dieksodus ke negeri Belanda bersama rekannya Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesumo, karena kritikan tajamnya lewat tulisan : Als ik eens Nederlander was, andaikata aku seorang Belanda, maka akhir tahun 1921 setelah masa pembuangan, beliau terjun secara utuh dalam dunia pendidikan guna mewujudkan impian luhurnya, dengan mendirikan Taman Siswa yang bertujuan menghimpun kaum muda Indonesia untuk menuntut ilmu. Melalui Taman Siswa, maka pendidikan yang ingin dikembangkannya adalah pendidikan yang sanggup mengakui hak anak didik atas kemerdekaan untuk bertumbuh dan berkembang sesuai dengan bakat dan karakternya. Lewat dunia pendidikan, Ki Hajar Dewantoro memberikan landasan yang kokoh sebagai basis mengembangkan tiga pilar pendidikan ke depan yaitu : Ing-Ing-Tut. Pertama; Ing Ngarso sung tulodo; Kedua; Ing Madya mangun karso; Ketiga; Tut Wuri Handayani. Dengan ajarannya ini, dapat kita simpulkan bahwa walaupun telah tiada namun nama sosok Ki Hajar Dewantoro masih hidup diantara kita dalam bentuk ide, gagasan, nilai-nilai hidup, prinsip hidup dan way of life yang pernah diletakkan di Indonesia.
Jokowi : Revolusi Mental Menuju Indonesia Pintar
Masih segar dalam ingatan kita ungkapan Presiden terpilih Joko Widodo saat menjalani masa kampanye dan debat capres yang mengatakan bahwa jika dirinya terpilih menjadi Presiden RI, maka akan mengeluarkan empat Kartu Sakti untuk mewujudkan visi dan misinya dalam membangun Indonesia. Keempat Kartu Sakti itu antara lain : kartu ”Indonesia Pintar”, “Indonesia Sehat”, “Indonesia Kerja”, dan “Indonesia Sejahtera”. Program Indonesia Sehat dan Cerdas harus bersentuhan langsung dengan masyarakat Indonesia di seluruh pelosok tanah air, terutama pembenahan infrastruktur vital di daerah-daerah harus menjadi sasaran prioritas Jokowi – JK dalam masa pemerintahannya.
Banyak visi dan misi serta program yang telah ditetapkan. Adalah satu program dari visi dan misi pasangan Jokowi – JK yang sangat menyentuh dunia pendidikan yakni KARTU INDONESIA PINTAR. Bahwa hal penting yang harus dibangun adalah pembangunan manusia. Pembangunan manusia sangat ditentukan oleh dunia pendidikan agar menghasilkan sumber daya manusia Indonesia yang berdaya saing di dunia internasional. Untuk mencapai mimpi besar ini, pendidikan karakter itu penting. Dan supaya pendidikan karakter itu dibangun dengan baik, diperlukan adanya revolusi mental. Mental manusia Indonesia harus diubah dengan pendidikan karakter. Pasangan Jokowi – JK mampu memberikan langkah kebijakan sebagai solusi dengan memprogramkan KARTU INDONESIA PINTAR dan mengusung pendidikan karakter.
 Pendidikan : Pembentuk Karakter Bangsa
Sejatinya, pendidikan merupakan sarana pembentuk karakter bangsa. Mengapa? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pendidikan diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dan usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Sedangkan, Karakter artinya cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Jadi, pendidikan berkarakter adalah pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan seluruh warga sekolah untuk memberikan keputusan baik-buruk, keteladanan, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan sarana yang penting dalam pembentukan karakter setiap warga dalam suatu bangsa. Peranan pendidikan akan dapat mempengaruhi kokohnya keimanan dan secara tidak langsung juga moralitas dan karakter bangsa. Fakta historis telah menunjukkan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia dimulai secara nyata dari adanya kecerdasan. Kecerdasan dapat berfungsi setelah disentuh oleh pendidikan dan para penyentuhnya adalah para guru di sekolah. Kecerdasan adalah asset utama untuk melestarikan bangsa itu sendiri. Apapun yang dimiliki oleh suatu bangsa tak akan berarti bila pengelolaannya tidak dilandasi oleh kecerdasan. Akhirnya dengan sedikit spirit kecerdasan yang kita miliki mari sekali lagi kita mengucapkan proficiat buat bapak/ibu guru yang adalah pahlawan tanpa tanda jasa.
 Pendidikan Karakter : Pembentuk Budaya Sekolah
Sebuah term yang perlu dijelaskan adalah term “budaya”. Secara harafiah, pengertian budaya (culture) berasal dari kata Latin Colere, yang berarti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang. Ashley Montagu dan Ghristoper Dawson mengartikan kebudayaan sebagai way of life, yaitu cara hidup tertentu yang memancarkan identitas tertentu pula dari suatu bangsa. Sedangkan menurut Koentjaraningrat, budaya adalah :”keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar” (Supriyadi & Guno : 2009 : 4).
Pendidikan  karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas. Sasaran pendidikan karakter adalah seluruh Sekolah yang ada di Indonesia, baik negeri maupun swasta.  Semua warga sekolah, meliputi para peserta didik, guru, karyawan administrasi, dan pimpinan sekolah menjadi sasaran program ini. Sekolah-sekolah yang selama ini telah berhasil melaksanakan pendidikan karakter dengan baik dijadikan sebagai best practices, yang menjadi contoh untuk disebarluaskan ke sekolah-sekolah lainnya.
 Study Tour : Sarana Belajar Lintas Negara
Yayasan Puteri Hati Kudus (YPHK) merupakan salah satu karya pendidikan yang di kelola oleh para Suster Kongregasi FCJM dengan semangat pendiri Muder Maria Clara Pfander dan teladan hidup St. Fransiskus Assisi. Model pendidikan yang diterapkan adalah pendidikan berbasis IT mulai dari tingkat TK, SD, SMP, SMA dan SMK. Tujuannya berusaha menjawab tuntutan zaman tentang pendidikan berkarakter dan berakhlak mulia. Hal ini sebagai upaya untuk membenahi peserta didik dengan tenaga kependidikan yang handal dan profesional. Penerapan pendidikan terhadap anak didik serentak juga dengan pembinaan terhadap tenaga pendidik dan kependidikan. Menjawab tuntutan tersebut, yayasan ini berupaya membuat program tahunan terencana bagi peserta didik, tenaga pendidik dan kependidikan, berupa  workshop, retret tahunan, dan lain – lain.
Salah satu program di tingkat SMA dan SMK yang baru saja terlaksana adalah study tour. Study tour yang di adakan di Singapura selama lima hari menjadi satu kesempatan yang sangat baik untuk mempraktekkan kemampuan berbahasa Inggris dan juga kesempatan untuk melihat suasana belajar di Negara asing, mempersiapkan diri dalam era globalisasi yang makin lama makin maju. Penerapan English morning dan English club di lingkungan sekolah menjadi nyata saat mereka berhadapan dengan siswa/i di Negara asing. Hal ini membantu mereka untuk semakin bersemangat dalam belajar, memperluas wawasan berpikir dan semakin optimis dalam mencapai cita-cita dan masa depannya. Selalu ada keyakinan bahwa geliat study tour ini menjadi wahana untuk berkompetisi secara ilmiah. Program pendidikan seperti ini harus dipertahankan karena memberikan pelajaran serta pengalaman berharga bagi dunia pendidikan anak. Minimal ada banyak pengalaman dari negara Singapura yang di bawa ke Indonesia, secara khusus dalam lingkungan pendidikan setempat.
Yayasan dan pihak sekolah mampu menghadirkan terobosan yang berlevel internasional. Ketua Yayasan Puteri Hati Kudus (YPHK), Sr. Frederika Hasugian, FCJM bersama Kepala Sekolah SMK Assisi Sr. Agnes Tambunan, FCJM dan Kepala Sekolah SMA Assisi, Sr. Ernestine Simatupang, FCJM memberikan gambaran bahwa study tour menjadi salah satu program rutin SMK dan SMA karena merupakan sarana yang cocok bagi mereka dalam meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris, menambah wawasan dan pengetahuan dalam bidang IPTEK, dan menjalin silaturahmi antara pihak sekolah SMA dan SMK Assisi Siantar dengan negara asing. Kita berharap bahwa geliat study tour ini akan menjadi wahana untuk mendukung anak-anak bangsa semakin cerdas, kreatif, dan mengenal diri serta mengubah mental mereka dari yang kurang kompetitif menjadi lebih berkompetitif. Jika hal tersebut terlaksana, sadar atau tidak sadar program revoluasi mental sedang kita hidupkan.
 Epilog
Bahwa karena rasa cinta yang amat mendalam terhadap bangsa dan negara, api patriotisme dan Nasionalisme harus dinyalakan dalam tungku pendidikan. Kerelaan dan kesadaran untuk berbuat sesuatu yang baik bagi bangsa dan tanah air berarti kita turut mengekspresikan kecintaan pada Republik Indonesia serta menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa dan negara Indonesia sebagaimana termaktub dalam pancasila dan UUD 1945 agar tetap bermegah di mata dunia dan sekitarnya. Dengan demikian, Thomas Hobbes (sang filsuf) meyakinkan kita bahwa sifat-sifat manusia seperti persaingan, malu-malu dan kemegahan selalu ada dalam watak manusia sehingga apabila tidak diwaspadai akan terjadi “Bellum omnium contra omnes”, perang semua melawan semua dan pada saat itu manusia akan tampil sebagai “homo homini lupus”, manusia menjadi serigala bagi sesamanya manusia. Manusia yang tidak memiliki daya saing akan berusaha menghancurkan manusia yang sangat kompetitif dengan segala macam cara.
            Lantas apa yang diharapkan dari pendidikan zaman ini? Dunia berkembang sangat kompleks. Teknologi menjadi pemacu utama yang membuat orang kaget setiap waktu. Situasi dan suasana yang serba baru selalu bermunculan setiap saat. Maka pengaruh kemajuan teknologi membuat manusia kewalahan dalam mempertahaankan hal-hal yang baik. Dalam situasi demikian, kemajuan zaman yang begitu cepat menantang sekaligus menuntut tanggung jawab atas dunia pendidikan kita. Tantangan kemajuan zaman akhirnya menghadirkan sikap mental instant dan jalan pintas untuk mencapai kualitas atau kesuksesan tanpa proses. Prinsip klasik :”berjuang sekuat tenaga dulu baru dapatkan hasil yang baik” gugur. Orang harap gampang tanpa proses, serba instant itu yang bertumbuh subur, wajah pendidikan makin suram. Maka yang  menjadi harapan kita adalah penataan dunia pendidikan yang lebih baik karena dunia pendidikanlah yang menjadi oven pemanusiaan manusia. Tugas dan tanggung jawab lembaga-lembaga pendidikan adalah janganlah mereduksi misi pemanusiaan manusia hanya sebatas penataan intelek/otak saja, tetapi perlu pendidikan budi pekerti, pembentukan mental, pembinaan iman, opus manuela serta pendidikan watak yang sejalan sehingga out put dari dunia pendidikan tetap menghasilkan insan-insan pecinta kebenaran yang berkepribadian utuh tanpa pincang. Revolusi mental adalah solusi yang terbaik untuk Indonesia.

Sumber :
http://www.mirifica.net/2014/10/31/geliat-study-tour-di-negara-singapura-revolusi-mental-pendidikan-karakter-pemanusiaan-manusia/

Wednesday, December 17, 2014

Anies Baswedan: Finlandia Terapkan Sistem Pendidikan yang Dicetuskan Ki Hajar Dewantara

Sumber foto:
nasional.kompas.com
Negara Finlandia sampai saat ini menjadi acuan sistem pendidikan terbaik dunia menurut hasil survei Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), lembaga survei internasional yang komprehensif pada 2003. Lembaga tersebut melakukan tes yang dikenal dengan nama PISA untuk mengukur kemampuan siswa di bidang sains, membaca, dan matematika.
Sistem pendidikan Finlandia dianggap memanusiakan siswa-siswanya dengan tidak membebani lewat penambahan jam belajar, memberi PR, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir dengan berbagai tes. Siswa di Finlandia malah mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu 7 tahun, dan jam sekolah yang lebih sedikit, hanya 30 jam per minggu.
Namun, seperti disebut Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar, dan Menengah, Anies Baswedan, bangsa Indonesia tidak menyadari bahwa sistem pendidikan di Finlandia sudah diterapkan Ki Hajar Dewantara sejak 1930-an. Tokoh pendidikan Indonesia itu sudah menulis sistem tersebut dalam bukunya, Sekolah Taman Siswa.
“Kita sebagai anak bangsa jarang membaca buku karangan Ki Hajar Dewantara. Sebaliknya, Finlandia sudah mempraktikkannya sejak tahun 80-an. Kini sistem pendidikan Finlandia memesona dan menjadi acuan semua negara di dunia, “ ujarnya saat bertatap muka dengan sekitar 650 kepala Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia di aula Kemdikbud, Jakarta, Senin, (1/12).
Anies memaparkan bahwa pemikiran Ki Hajar Dewantara yang diterapkan Finlandia, salah satunya, bahkan yang utama, adalah menjadikan sekolah sebagai taman bermain. Dengan menjadikan sekolah sebagai taman bermain, situasi pembelajaran menjadi lebih nyaman dan menyenangkan, peserta didik selalu ketagihan untuk sekolah dan belajar.
“Bandingkan dengan situasi sekolah di Indonesia yang membuat peserta didik stres, tegang, dan merasa sekolah sebagai beban. Di sana disebut taman, bukan yang lain. Kita harus mendorong agar murid-murid kita bisa merasa seperti di taman. Mereka harus bisa ketagihan belajar,” tambahnya.
Karena itu, Anies meminta kepada seluruh jajaran pendidik di Tanah Air agar mengembalikan sekolah menjadi tempat yang menyenangkan bagi siswa. Sekolah harus diubah menjadi tempat yang menyenangkan. Kalau siswa ke sekolah pasti ingin kembali, bukan ingin segera pulang.
Belajar dari filosofi yang dibuat bapak pendidikan Ki Hajar Dewantoro dalam bukunya, lembaga pendidikannya diberi nama taman, yaitu tempat yang penuh kebahagiaan dan menyenangkan. Anies mengatakan, membuat sekolah menjadi tempat yang menyenangkan harus menjadi visi seluruh jajaran pendidik di Tanah Air.
Metode lain yang diterapkan di Finlandia, kata Anies, adalah menolak penyeragaman dan membuka ruang seluas-luasnya bagi peserta didik untuk berkreasi, dan inovatif.

Sumber:
http://citizendaily.net/anies-baswedan-finlandia-terapkan-sistem-pendidikan-yang-dicetuskan-ki-hajar-dewantara/

Standar Pelayanan Minimal Belum Terpenuhi

Sabtu, 13 Desember 2014 | 05:02 WIB
 
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Murid SDN Kemiri Muka 02, Beji, Depok, mengerjakan soal Bahasa Indoensia pada hari pertama ujian nasional di sekolah mereka, Senin (6/5/2013). Pelaksanaan ujian nasional di sekolah ini lancar yang diikuti 19 siswa.
 
JAKARTA, KOMPAS.com — Meski angka partisipasi murni jenjang pendidikan dasar hampir mencapai 100 persen, sekolah di berbagai daerah masih belum bisa memenuhi standar pelayanan minimal. Masalah terbesar tetap pada sarana prasarana serta ketersediaan dan kompetensi guru.

Demikian hasil pengukuran kondisi awal standar pelayanan minimal pendidikan dasar tahun 2014 yang dilakukan di 110 kabupaten/kota dan dikelola Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) dengan dana hibah dari Uni Eropa sebesar Rp 600 miliar. Hasil survei di 12.980 sekolah/madrasah (dari total 55.769 SD/MI/SMP/MTs) dilakukan pada April-Mei 2014 oleh pengawas sekolah dipublikasikan pada Kamis (11/12), di Jakarta.

Hasil survei menunjukkan, antara lain, hanya 27 persen SMP/MTs dari jumlah sekolah yang disurvei memiliki guru untuk setiap mata pelajaran. Hanya 22 persen SMP/MTs memiliki guru berkualifikasi S-1/D-4 dan bersertifikat pendidik masing-masing 1 orang untuk Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan PKn.

Sejak otonomi daerah, sekolah menjadi tanggung jawab pemerintah daerah (pemda). Untuk itu, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad mengingatkan pemda tentang kewajibannya. ”Kalau tidak, percuma kita sudah 14 tahun otonomi daerah, tetapi masalahnya sama saja. Setiap tahun juga ada Rp 10 triliun yang diberikan ke daerah untuk selesaikan masalah ini,” kata Hamid.

Minister Counselor/Head of Cooperation European Union Franck Viault mengatakan, survei itu langkah awal. Dengan 27 indikator pencapaian standar pelayanan minimal, segala persoalan akan bisa diketahui. (LUK)
 
Sumber: 
http://edukasi.kompas.com/read/2014/12/13/05025511/Standar.Pelayanan.Minimal.Belum.Terpenuhi
 

Monday, December 15, 2014

Karakter Generasi Manusia di Zaman Internet

PERKEMBANGAN teknologi informasi khususnya internet, tidak saja membawa perubahan dalam sistem teknologi informasi dan komunikasi, namun juga telah turut andil dalam memengaruhi karakter manusia yang terlahir di fase zamannya masing-masing saat internet ada.
“Mari bersiap dengan realita bahwa kita akan hidup bersama-sama dengan generasi media 3 layar handphone, komputer, dan televisi”ujar CEO Suara Surabaya Media, Errol Jonathans dalam seminar “Komunikasi ; Budaya Perjumpaan yang Sejati” pada penutupan Pekan Komunikasi Sosial ke-48 di Keuskupan Weetebula, Sumba, awal Juni.
Menurut Errol, perkembangan teknologi informasi ini pada akhirnya memunculkan julukan-julukan generasi internet di antaranya:
1. Generasi Q ( Generasi Quiet) yakni generasi diam. Terlihat diam, anteng tetapi sibuk dengan layar komputernya.
2. Generasi Look at me: budaya narsis, semua orang disuruh lihat dia
3. Generasi posting. Apa saja diposting.
4. Generasi Y. Yang termasuk kategori ini adalah mereka yang lahir pada tahun 1977-1997. Bahayanya adalah gerenasi ini selalu berorientasi pada kemakmuran, dan menjadi individualis (generasi aku). Mereka ini termasuk berpendidikan tinggi dan baik, terbiasa dengan teknologi, sangat percaya diri, dan multi ketrampilan, dengan energi berlebihan.
5. Generasi Z. Kategori generasi ini adalah meraka yang lahir setelah tahun 1998.  Mereka termasuk golongan anak teknologi informasi, karena segala hal sangat dekat dengan mereka sejak kecil, pintar, bermental juara, ahli di mobile phone, online di semua gadget, dan budayanya ada di facebook dan twitter.
Di sebuah TK di Surabaya, pelajaran menggambar sudah tidak lagi menggunakan buku gambar dan krayon tetapi sudah menggunakan iPad. Bahkan iPad juga telah bersiap-siap untuk meluncurkan produk terbarunya yakni iPad Baby.
“Kira-kira lima tahun ke depan bagaimana cara berkomunikasi dengan anak-anak ini,ya?” tanya Errol.

Menteri Susi Dijadikan Contoh Bahwa Pendidikan Tak Hanya di Sekolah

Sabtu, 13/12/2014 16:23 WIB

Jakarta - Penerapan kurikulum pendidikan di Indonesia saat ini masih menuai pro dan kontra. Padahal menurut pengamat pendidikan Rhenald Kasali, kurikulum bukanlah kontributor utama dalam dunia pendidikan.

Rhenald mencontohkan, Menteri Susi yang diketahui hanya berijazah SMP, dapat begitu menonjol dengan gebrakan-gebrakan barunya dalam dunia perikanan dan kelautan. Perempuan nyentrik ini bahkan sebelumnya telah melalangbuana di dunia internasional dalam bisnis ekspor ikan.

"Menteri Susi adalah salah satu cerminan bahwa manusia bisa belajar di luar sekolah. Jadi kalau sekarang kita mengandalkan sekolah, seperti yang disebutkan, bahwa komponen kurikulum hanya 5 persen," tuturnya.

Rhenald mengatakan, banyak orang tua yang berpikir bahwa aspek kognitif sangat penting bagi anak. Sementara menurutnya, yang lebih utama adalah meta kognitif.

"Misalnya orang tua yang mengeleskan anaknya matematika. Dia kemudian paling pandai dalam berhitung di kelasnya. Tapi apakah itu jaminan dia bisa bersaing di dunia global setelah dewasa?" ujarnya.

Saat ini, metode yang diajarkan di sekolah-sekolah di Indonesia terlalu banyak menghafal. Padahal menurutnya yang paling penting adalah cara berpikir kritis.

"Pendidikan di zaman baru ini tidak mudah. Ini zaman ketidakpastian," kata pendiri lembaga Rumah Perubahan ini.

Untuk itu, butuh perjuangan besar agar bangsa kita bisa bersaing dalam kancah internasional. "Anak-anak kita harus dididik keluar dari zona nyaman," tutupnya. (Nur Khafifah - detikNews)

Sumber :
http://news.detik.com/read/2014/12/13/162319/2776524/10/menteri-susi-dijadikan-contoh-bahwa-pendidikan-tak-hanya-di-sekolah?n992204fksberita

Sunday, December 14, 2014

Inilah Sekolah Robotik Pertama di Indonesia!

Jumat, 12 Desember 2014 | 14:00 WIB

 
Dok Binus ASO School of Engineering (BASE).  BASE sendiri merupakan satu-satunya sekolah untuk jurusan bidang robotik di Indonesia. Sekolah ini mencoba menggabungkan antara mesin dan komputer dalam satu produk engineering.

KOMPAS.com - Semakin majunya teknologi di era ini membuat banyak institusi pendidikan tinggi berlomba-lomba menciptakan jurusan berbasis teknologi komputer. Namun, lain halnya dengan Universitas Bina Nusantara (Binus University) yang mendirikan Binus ASO School of Engineering (BASE).

BASE merupakan program joint venture antara ASO College, salah satu sekolah robotik terkemuka di Jepang, dengan Binus University. Program kerjasama ini membuat kedua institusi pendidikan itu memiliki peran yang lebih dari sekadar kerjasama.

"Joint venture ini merupakan proses 'perkawinan' antara ASO College dan Binus. Jadi, ada tabungan bersama yang berasal dari gabungan pendanaan keduanya," ujar Ho Hwi Chie, Dean of Binus ASO School of Engineering, di Kampus Kijang Binus University, Rabu (10/12/2014).

BASE sendiri merupakan satu-satunya sekolah untuk jurusan bidang robotik di Indonesia. Sekolah ini mencoba menggabungkan antara mesin dan komputer dalam satu produk engineering.

Sekolah tersebut memiliki dua program studi utama, yakni Automotive Robotic Engineering dan Product Design Engineering. Kedua program studi itu sama-sama fokus pada bidang teknik, tapi berbeda pada eksekusinya.

"Automotive robotic engineering lebih mempelajari otomatisasi dalam bidang kendaraan bermotor, sementara product design engineering menciptakan karya-karya fungsional yang membantu dalam kehidupan manusia tapi dengan harga ekonomis," jelas Ho Hwi Chie.

Mahasiswa BASE program studi automotive robotic engineering berusaha membuat benda mati, dalam hal ini kendaraan bermotor, memiliki “pikiran” atau intelegensia. Salah satu proyek yang tengah mereka kerjakan adalah sebuah prototipe mobil yang mampu melambatkan lajunya dengan otomatis.

"Kita sedang membuat prototipe mobil yang apabila melanggar marka jalan, maka ia akan otomatis melambat. Ini berfungsi untuk mengurangi kecelakaan ketika mengantuk karena mobil akan mengurangi kecepatannya dan pengendara mobil akan bangun begitu sadar mobilnya melambat," jelas Ho Hwi Chie.

Sementara itu, program studi product design engineering berlandaskan ilmu teknik industri yang menggunakan sumber daya secukupnya dan tak berlebihan. Output dari program studi ini adalah mahasiswa akan mampu menciptakan ide-ide problem solving dan produk hasil inovasi yang nilai gunanya bertambah.


 
M LATIEF Rektor Binus University Prof Harjanto Prabowo (kedua dari kiri) dan CEO of ASO College Group, Yutaka Aso, pada jumpa pers Binus-ASO School of Engineering (Base) di The Joseph Wibowo Center, Senin (25/8/2014).
Selanjutnya, Ho Hwi Chie menjelaskan, BASE melihat bahwa orang Indonesia memiliki kegemaran di bidang otomotif. Karena itulah, mereka kemudian memiliki misi menyediakan sebuah lembaga yang akan mengakomodasi kebutuhan tersebut. Selain itu juga untuk menciptakan kemampuan anak bangsa lebih baik lagi.


"BASE mencoba mempersiapkan bangsa Indonesia untuk siap menghadapi AFTA 2015. Jangan sampai anak bangsa malah jadi penonton di negeri sendiri," ujar Ho Hwi Chie.

Dia menambahkan, pembentukan BASE sebagai sekolah robotik satu-satunya di Indonesia bukan tanpa alasan. Selaku selaku induk utama BASE, pihak Binus University melihat adanya kesempatan yang terbuka lebar bagi lulusan BASE.

"Artinya, pasarnya sebetulnya ada. Ada harapan bagi orang-orang Indonesia, bahkan dunia, untuk memaksa membeli barang-barang dari luar negeri. Nah, kenapa kita tidak ciptakan sendiri. Cuma, ilmu-ilmu robotik ini masih kurang mendapatkan perhatian, dan kita malah fokus pada ilmu-ilmu dasar," jelas Ho Hwi Chie.


 
Dok Binus ASO School of Engineering (BASE). 

 Untuk automotive robotic engineering, lulusan BASE bisa menjadi product development engineer, automation system engineer, simulation engineer, factory automotive engineer, dan project engineer.
Untuk tujuan itu, ada beberapa jenjang karier yang disasar dari kedua program studi tersebut. Untuk automotive robotic engineering, lulusan BASE bisa menjadi product development engineer, automation system engineer, simulation engineer, factory automotive engineer, dan project engineer. Sementara itu, lulusan product design engineering diharapkan mampu menjadi product planning engineer, project design engineer, digital modeler engineer, digital product engineer, dan applied product manufacturing.


Bagaimana kuliah robot?

BASE merupakan sebuah sekolah robotik khusus untuk lulusan IPA di SMA-nya. Hal ini dikarenakan lulusan IPA telah memiliki dasar ilmu pengetahuan yang digunakan di BASE.

"Anak-anak yang penting itu dari IPA. Kalaupun ada dari IPS akan ada tes matematika tertentu. Hanya saja, kita tidak menyarankan hal itu," kata Ho Hwi Chie.

Selain itu, BASE juga mengadakan tes tertulis dan wawancara untuk menguji kelayakan calon mahasiswanya. Program beasiswa pun tak luput dari sekolah ini.

"Kita ada program beasiswa, syaratnya nilai kuliahnya harus baik dan IP ada di atas 3,00 dan beasiswa itu bisa didapat setelah mereka menjalani perkuliahan di BASE," kata Ho Hwi Chie.

Joint venture dengan Jepang ini semakin terasa dengan kehadiran dosen-dosen asal ASO College. Para mahasiswa juga mendapatkan esktrakurikuler bahasa Jepang guna memperkuat kemampuan bahasa Jepangnya selama periode magang di Jepang.

"Jadi, di sini ada program internship di waktu antara semester enam dan tujuh. Mereka dikirim ke Jepang untuk merasakan pekerjaan-pekerjaan yang mereka pelajari di BASE," jelas Ho Hwi Chie.            

Sumber :
http://edukasi.kompas.com/read/2014/12/12/14000001/Inilah.Sekolah.Robotik.Pertama.di.Indonesia.